Sakit karena berpuasa?

ANDA BERTANYA, APOTEKER MENJAWAB

Diasuh oleh para Apoteker Dosen Fakultas Farmasi Unand

Sakit karena berpuasa?

Pertanyaan:

Pa Apoteker yang terhormat, dari pengajian kata ustadz berpuasalah agar sehat.  Koq saya sering sariawan selama bulan puasa. Kenapa Pak? Mohon penjelasannya. Trims atas jawabannya. Dona Malang 089680655XXX.

 

Jawaban:

Dona, puasa itu jelas membuat tubuh kita sehat. Seseorang yang berpuasa tidak saja sehat secara fisik, tetapi juga sehat jiwanya dan sosial serta spiritualnya. Kenyataan tersebut bukan rekaan, tetapi hasil penelitian yang telah dilakukan badan kesehatan dunia. Allah akan memberikan berkah kepada orang yang berpuasa. Hal ini ditegaskan oleh baginda Nabi Muhammad SAW yang dalam hadis beliau yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu'aim. Hadis tersebut adalah  "Berpuasalah, maka kamu akan sehat”.

Nah, kenapa Dona mengalami justeru hal yang sebaliknya? Tentu saja ada penyebabnya. Banyak penyakit yang disebabkan atau berhubungan tidak saja dengan makanan, tetapi juga dengan cara makan.  Kita dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang halal dan baik. Makanan yang baik berarti bersih, higienes, bergizi dan tidak mengandung bahan-bahan berbahaya.

Apabila makanan yang kita makan tidak bersih, maka kemungkinan besar makanan tersebut mengandung kuman. Kuman-kuman ini dapat menyebabkan penyakit seperti mencret, infeksi hati atau hepatitis, tifus dll. Kebiasaan sebagian warga yang lebih sering mengkonsumsi makanan dari sumber luar, terutama di bukan puasa. Dari pengalaman kami, kebersihan makanan yang dibeli dari luar kurang terjamin dibandingkan makanan yang dimasak dan dihidangkan sendiri di rumah. Dalam menghidangkanpun sering kita lihat penjual bertindak tidak higienes. Telur dadar, gorengan dan makanan siap saji lainnya dipegang oleh penjual dengan tangan terbuka. Keadaan ini mengundang pencemaran makanan oleh kotoran atau kuman yang ada melekat pada tangan mereka.

Makanan yang dimakan harus bergizi. Orang yang berpuasa sering terlihat mengkonsumsi minuman yang berasa manis yang tidak atau sangat sedikit mengandung sumber kalori. Mereka mengkonsumsi minuman yang berisi pemanis saja, ditambah dengan pewarna, perasa, pengharum dan mungkin juga bahan tambahan makanan lainnya seperti pengental. Pada waktu menjelang berbuka, kadar gula dalam darah cukup rendah, dan tubuh dalam keadaan kekurangan cairan. Saat berbuka energi dan air harus segera dikonsumsi. Bila kita meminum air tanpa kalori, maka tubuh akan seperti tertipu sehingga keadaan rendahnya kadar gula darah akan berlanjut hingga yang bersangkutan mengkonsumsi makanan lain yang mengandung kalori. Masalahnya tidak di situ saja. Bahan tambahan makanan yang lain seperti pemanis, pewarna dll dapat menimbulkan akibat kurang baik dalam tubuh. Apalagi kalau kadar bahan tersebut melebihi batas yang dizinkan dan dalam jumlah yang cukup banyak serta dengan frekuensi yang tinggi. Air yang digunakan pun belum tentu terjamin kualitasnya. Di samping itu masyarakat sering meminum air yang diberi es pada waktu berbuka. Makanan atau minuman yang terlalu dingin ataupun terlalu panas jelas juga kurang baik untuk kesehatan.

Berbukalah dengan yang manis! Kami tidak tahu dari mana asal mulanya. Nabi kita tidak pernah menyatakan hal demikian. Pernyataan tersebut hanya digadang-gadang oleh perusahaan yang tidak bertanggungjawab mengiklankan produk mereka. Seyogianya Ikatan Apoteker Indonesia menuntut pihak Lembaga Konsumen untuk meluruskan iklan yang sesat dan menyesatkan tersebut. Bila masyarakat berbuka dengan makanan atau minuman yang berasa manis karena adanya gula, mungkin tidak begitu bermasalah. Namun hal ini pun tidak dianjurkan. Untuk lebih jelasnya masalah ini juga sudah dibahas pada artikel ABAM sebelumnya tahun 2010. Artikel dimaksud dapat diunduh di laman web Fakultas Farmasi Unand.

Nabi Muhammad SAW mengutamakan berbuka dengan buah kurma segar, bukan yang dikeringkan apalagi kurma yang telah diolah sedemikian rupa berupa pemanasan dengan penambahan gula. Hadis riwayat Ahmad dan Abu Daud menyatakan bahwa dari Anas bin Malik, ia berkata: “Adalah Rasulullah berbuka dengan rutab atau kurma yang lembek sebelum shalat, jika tidak terdapat rutab, beliau berbuka dengan kurma kering atau tamr, jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air. Baginda Rasulullah bersabda: “Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andai kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, karena sesungguhnya air itu suci”. Dari hadis di atas, jelas Nabi mengutamakan kita berbuka dengan kurma. Beliau tidak pernah menyarankan berbuka dengan yang manis. Saya tidak sependapat dengan sebagian masyarakat berbuka dengan yang manis. Padahal berbuka dengan yang manis tersebut lebih banyak mudaratnya. Untuk memahaminya tidak ada salahnya kita mengkaji apa dan bagaimana kurma. Apakah sama kurma segar yang baru dipetik, kurma yang dikeringkan atau kurma yang sering kita temukan di Indonesia. Kurma merupakan tanaman dari kelompok palma yang nama latinnya Phoenix dactylifera L. Kurma segar tidak terlalu manis, sama seperti kita mengkonsumsi buah matoa, pisang, mangga dan lain-lain. Kurma segar merupakan buah yang bernutrisi tinggi tetapi berkalori sedang. Kurma segar mengandung gula komplek dan gula sederhana. Gula sederhana terdiri dari sukrosa (sama seperti gula pasir) dan monosakarida glukosa dan fruktosa. Kurma segar mengandung garam mineral seperti potassium,  serat dan asam askorbat atau vitamin C yang cukup tinggi. Kadar vitamin C ini akan menurun dengan cepat atau akan habis sama sekali bila kurma dikeringkan, apalagi bila diolah dengan pemanasan. Kadar gula dalam kurma yang dikeringkan akan meningkat karena kandungan airnya banyak berkurang, akibatnya kurma akan terasa lebih manis. Kadar vitamin C kurma kering sangat rendah atau bahkan hilang, karena terjadi pengrusakan selama proses pengeringan.  Kandungan gula akan sangat tinggi bila kurma dibuat menjadi manisan kurma dengan penambahan gula seperti yang banyak ditemukan di Indonesia. Kadar gula yang sangat tinggi ini dimaksudkan sebagai pengawet, sehingga manisan kurma dapat disimpan lebih lama dan diekspor ke negeri yang jauh, termasuk ke Indonesia. Bila kandungan gulanya sangat tinggi, bila dikonsumsi dalam jumlah berlebih tidak baik untuk kesehatan. Jika mau mengikuti sunnah Rasulullah, upayakan untuk mendapatkan kurma segar, tidak dikeringkan dan tidak ditambah gula. Kenapa harus kurma segar? Kurma segar mengandung vitamin C yang cukup tinggi dan gula, baik gula komplek atau karbohidrat maupun gula sederhana yang cukup. Vitamin C sangat penting untuk mempertahankan daya tahan tubuh. Kenapa harus kurma? Apakah tidak boleh buah lain? Kurma segar memang buah-buahan dengan rasa cukup manis, sehingga hampir tidak bermasalah bagi sebagian besar orang. Lain halnya dengan buah nenas, kedondong, dan lain-lain yang mungkin kurang disukai sebagian orang karena rasanya yang agak asam. Namun hampir semua buah-buahan itu selain mengandung karbohidrat berupa gula sederhana seperti fruktosa dan glukosa, juga mengandung zat nutrisi lain seperti vitamin, potassium atau kalium. Fruktosa merupakan gula monosakarida yang dapat memberikan energi sama seperti glukosa, tetapi tidak menaikkan kadar gula darah. Kurma merupakan buah-buahan yang hampir terdapat di seluruh negeri Arab. Kurma segar dapat digantikan dengan buah-buahan yang ada di tanah air. Gula sederhana dari kelompok monosakarida yang sering ditemukan dalam  buah-buahan seperti fruktosa dan glukosa merupakan molekul kecil sehingga mudah dan cepat diserap di dinding usus untuk masuk ke dalam darah. Lain halnya dengan sakarosa yang merupakan disakarida perlu dipecah dulu menjadi monosakarida. Gula komplek akan lebih lama lagi baru dapat diserap, karena dipecah dulu dalam beberapa tahap. Kombinasi  ketiga kelompok gula ini akan memberikan penyediaan gula untuk energi secara cepat, bertahap dan bertahan lebih lama. Bagaimana pula dengan manisan kurma? Manisan kurma mengandung gula yang sengaja ditambahkan ke dalam kurma dalam jumlah sangat tinggi. Yang jelas dalam sunnah Nabi beliau tidak pernah menganjurkan berbuka dengan manisan kurma seperti yang sering kita lakukan di Indonesia. Mungkin juga pada zaman Nabi belum ada kurma yang diawetkan seperi manisan kurma.

Tidur merupakan kebutuhan yang tidak bisa digantikan dengan kegiatan lain maupun dengan obat. Pengurangan durasi atau lama tidur dapat berefek tidak baik bagi kesehatan. Keadaan kurang tidur dapat meningkatkan resiko penyakit termasuk menurunkan daya tahan tubuh. Timbulnya sariawan jelas dapat berhubungan dengan kurangnya durasi tidur. Agar  durasi tidur tidak berkurang selama bulan puasa, maka sebaiknya tidur lebih awal sehingga dapat terbangun dengan sendirinya menjelang waktu imsak. Hal ini juga sudah dicontohkan oleh Nabi.

 

Dari uraian di atas jelaslah bahwa apa yang sudah sering dilakukan tidak baik untuk kesehatan. Vitamin sangat diperlukan untuk mempertahankan dan meningkatkan daya tahan tubuh. Dengan kondisi tubuh yang fit, cukup tidur dan cukup zat gizi maka berbagai penyakit seperti sariawan dan lain-lain dapat dihindari.

Agar puasa dapat menyehatkan maka berikut diuraikan beberapa tips untuk Dona dan para pembaca. Istirahat dan tidurlah yang cukup dan teratur. Berbukalah segera dengan buah-buahan yang sesuai dilanjutkan dengan shalat magrib, baru kemudian menyantap hidangan berat. Makanlah secukupnya dan jangan berlebihan. Segeralah berbuka bila waktu magrib sudah masuk dan mentakhirkan makan sahur. Hindari mengkonsumsi  makanan yang terlalu dingin atau sebaliknya.

Demikianlah jawaban kami semoga bermanfaat. Syarat dan ketentuan berlaku. Terima kasih. Dr. Muslim Suardi, MSi., Apt.

Read 256 times