Hamil dan punya asma ?

ANDA BERTANYA, APOTEKER MENJAWAB

Diasuh oleh para Apoteker Dosen Fakultas Farmasi Unand

Pertanyaan:

Sore Pak. Saya Arum umur kandungan saya 12 minggu, maaf saya hamil dan saya punya asma. Dan saat ini penyakit saya sedang kambuh. Saya bingung harus konsumsi obat apa, karena saya sedanghamil. Jadi saya minta solusi Pak. Itu aja pertanyaan dari saya Pak, makasih Pak’ 085692999XXX.

Jawaban:

Ibu Arum, pastikan dulu apakah memang Ibu menderita asma atau tidak. Asma ada yang disebut asma bonkial dan yang lain asma kardial. Pengobatan antara keduanya tidak sama. Bahkan ada obat yang tidak boleh diberikan kepada salah satu jenis asma tersebut. Obat untuk menanggulangi sesak nafas karena asma banyak jenisnya. Ada yang termasuk golongan agonis reseptor beta-adrenergik, teofilin, hormon kortikosteroid, dan antikolinergik. Golongan agonis reseptor beta adrenergik bekerja merangsang pelebaran saluran udara. Sesak nafas akan hilang dengan cepat dalam beberapa menit dan bertahan selama 4-6 jam. Teofilin dan turunannya dapat melebarkan saluran udara dalam paru-paru (bronkus). Obat ini biasanya diberikan melalui mulut, tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari tablet biasa, sirup, kapsul dan tablet aksi lama. Untuk mendapatkan khasiat yang cepat dan pada serangan asma yang berat, biasanya diberikan secara suntikan langsung masuk ke dalam pembuluh darah. Hormon kortikosteroid bekerja menghambat terjadinya peradangan, sehingga penyempitan saluran pernafasan karena keradangan tidak terjadi. Ia sangat efektif dalam mengurangi gejala asma. Golongan antikolinergik bekerja menghalangi kontraksi otot polos dan pembentukan lendir yang berlebihan di dalam bronkus.

Penggunaan obat-obat oleh ibu hamil pada prinsipnya harus dihindari. Di dalam memberikan obat, baik dokter maupun apoteker selalu mempertimbangkan antara manfaat dan akibat buruk yang mungkin ditimbulkan oleh obat. Untuk keamanan bagi ibu hamil, maka FDA, Badan POM-nya Amerika, sudah mengelompokkan ke dalam 5 kategori. Kelompok tersebut adalah A, B, C, D, dan X, mulai dari yang paling aman hingga yang paling berbahaya. Obat-obat yang termasuk ke dalam kelompok X tidak boleh diberikan sama sekali kepada bumil (kontra indikasi).

Obat-obat golongan steorid sering juga diberikan kepada bumil yang asma. Prednison misalnya masuk dalam kategori C. Dengan demikian untuk mendapatkan obat ini harus melalui resep dokter dan penggunaannya sebaiknya dengan nasehat apoteker. Pemberian obat ini hanya bila betul-betul diperlukan dan bila tidak ada pilihan lain. Demikian juga dengan obat-obat antihistamin. Banyak jenis antihistamin yang tersedia. Dokter anda akan memilihkan obat antihistamin generasi kedua yang aman untuk bumil. Namun demikian pemberiannya harus secara hati-hati dan dengan indikasi yang selektif. Teofilin termasuk ke dalam kategori C, sementara terbutalin masuk dalam kategori B.

Selama masa kehamilan, calon ibu memang sebaiknya menghindari obat-obatan. Tapi lain halnya jika seorang penderita asma yang sedang menjalani pengobatan dan ternyata juga sedang hamil. Jangan menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi lebih dahulu dengan dokter dan atau apoteker. Sebab jika minum obat dihentikan, lalu tiba-tiba asmanya kambuh, akan berbahaya bagi janin. Ketika serangan sesak nafas ibu hamil akan kekurangan oksigen. Keadaan yang sama akan  terjadi pula pada janin. Dengan demikian tindakan pencegahan serangan asma sangat penting.  Beberapa tindakan pencegahan dapat dilakukan. Hindari pencetus serangan asma. Kebanyakan pemicu serangan asma adalah alergi. Maka untuk mencegah serangan zat atau bahan yang menimbulkan alergi (alergen) harus dihindari. Contoh alergen antara lain adalah: debu, tungau rumah, serbuk sari, makanan seperti udang, ikan, coklat, telur dll; keadaan stress, dan obat-obat tertentu serta kebiasaan merokok. Asap rokok dan merokok dapat memicu asma. Jauhilah asap rokok, apalagi merokok. Selain memicu asma, merokok akan meningkatkan resiko kelahiran dini, bayi lahir dengan bobot badan rendah, bahkan bayi lahir mati atau sindroma kematian bayi secara mendadak.

Ibu hamil atau yang berencana untuk hamil penderita asma,  sebaiknya sesegera mungkin berkonsultasi dengan dokter untuk penalaksanaan pengobatan asma. Kebanyakan obat-obatan untuk asma aman bagi kehamilan, namun ada juga yang perlu berhati-hati penggunaannya. Tidak semua obat asma masuk ke dalam kelompok A. Untuk itu, pastikan setiap obat yang diminum termasuk obat asma melalui nasehat dokter dan atau apoteker. Bu Arum, jangan bingung. Banyak obat asma yang cukup aman untuk bumil. Di samping itu tindakan pencegahan seperti yang sudah diuraikan di atas dapat dilakukan. Obat herbal alami dapat juga digunakan. Namun kita harus hati-hati. Gunakanlah obat herbal yang diproduksi oleh industri farmasi berizin. Hati-hati menggunakan obat herbal impor atau dari produsen yang tidak jelas. Ada kemungkinan obat-obat herbal tersebut dicampur dengan obat kimia yang mungkin berbahaya bagi bumil.

Demikianlah jawaban kami semoga bermanfaat. Syarat dan ketentuan berlaku seperti yang tercantum dalam artikel ABAM sebelumnya. Terima kasih. Dr. Muslim Suardi, MSi., Apt.

Read 183 times